PEMERINTAH Kabupaten Banjarnegara resmi menetapkan status tanggap darurat atas longsornya tanggul saluran irigasi sekunder di Desa Gemuruh, Kecamatan Bawang. Keputusan tersebut diambil untuk mempercepat penanganan kerusakan yang berpotensi mengganggu pasokan air bagi ratusan hektare lahan pertanian.
Penetapan status tanggap darurat dituangkan dalam Surat Keputusan Bupati Banjarnegara Nomor 300.2/440 Tahun 2026. Keputusan itu dihasilkan setelah rapat koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, perwakilan masyarakat, dan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) yang digelar di rumah dinas bupati pada Jumat (29/5/2026) malam.
Bupati Banjarnegara, dr. Amalia Desiana, mengatakan langkah tersebut diambil mengingat luasnya dampak yang ditimbulkan terhadap sektor pertanian apabila perbaikan tidak segera dilakukan.
“Prioritas utama pemerintah daerah adalah meminimalisasi dampak longsor irigasi dan mempercepat proses pemulihan,” ujarnya.
Ratusan Hektar Lahan Pertanian Terancam Kekurangan Pasokan Air
Data Pemerintah Kabupaten Banjarnegara menunjukkan sekitar 161 hektare lahan sawah terdampak akibat putusnya saluran irigasi. Dari jumlah tersebut, sekitar 40 hektare merupakan lahan yang baru selesai panen, sedangkan 121 hektare lainnya berada pada fase awal masa tanam yang sangat membutuhkan suplai air.
Untuk aspek teknis penanganan, pemerintah daerah menyerahkan pelaksanaan kepada BBWSSO yang memiliki kewenangan dan pengalaman dalam pengelolaan infrastruktur sumber daya air.
Bupati juga meminta Camat Bawang bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) untuk segera menyosialisasikan kondisi terkini dan langkah-langkah penanganan kepada masyarakat, khususnya para petani yang terdampak.
Selain itu, masyarakat diharapkan turut menjaga dan memanfaatkan jaringan irigasi secara bertanggung jawab guna mencegah terjadinya kerusakan serupa di masa mendatang.
BBWSSO Siapkan Pompanisasi untuk Jaga Pasokan Air Petani
Sebelumnya, Wakil Bupati Banjarnegara Wakhid Jumali bersama Sekretaris Daerah, Kepala BPBD, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), Dinas Pertanian, serta jajaran BBWSSO meninjau langsung lokasi longsor pada Jumat pagi.
Dalam kesempatan tersebut, Wakhid menjelaskan bahwa perbaikan permanen saluran irigasi akan ditangani oleh BBWSSO dengan estimasi waktu pengerjaan sekitar 30 hari.
Sambil menunggu proses perbaikan selesai, BBWSSO akan menerapkan sistem pompanisasi untuk menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian yang terdampak.
“Untuk menjaga pasokan air pertanian, BBWSSO akan melakukan pemompaan air dari saluran irigasi sekunder Siwuluh menggunakan sistem mobile pump,” kata Wakhid.
Ia juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga aset irigasi agar tetap berfungsi optimal dan berkelanjutan.
Penyodetan Ilegal Diduga Jadi Salah Satu Penyebab Longsornya Irigasi Skunder Gemuruh
Wakil Bupati mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil evaluasi awal, salah satu faktor yang diduga memicu longsor irigasi tersebut adalah praktik penyodetan atau pengambilan aliran irigasi secara ilegal.
Menurutnya, aktivitas tersebut tidak hanya mengurangi debit air yang mengalir ke lahan pertanian, tetapi juga memicu rembesan air ke dalam tanah yang berpotensi melemahkan struktur tanggul.
“Longsor ini menjadi perhatian bersama. Salah satu pemicunya adalah adanya penyodetan ilegal yang tidak sesuai peruntukan sehingga menimbulkan rembesan dan berkontribusi terhadap terjadinya longsor,” ujarnya.
Perbaikan Permanen Ditargetkan Rampung Satu Bulan
Kepala BBWSSO Maryadi Utama mengatakan hasil koordinasi di lapangan menghasilkan dua langkah penanganan yang dilakukan secara paralel.
Langkah pertama adalah penanganan darurat melalui pompanisasi dari saluran irigasi sekunder Siwuluh untuk memenuhi kebutuhan air petani yang saat ini memasuki masa pengolahan lahan.
“Mulai hari ini kami mengoperasikan mobile pump dengan kapasitas 250 liter per detik untuk mengalirkan air ke area terdampak,” kata Maryadi.
Sementara itu, langkah kedua adalah pembangunan sistem penanganan permanen pada tanggul yang longsor. Kerusakan tercatat mencapai panjang sekitar 50 meter, lebar 10 meter, dan tinggi 12 meter.
Perbaikan akan dilakukan dengan pemasangan jaringan pipa yang diperkuat menggunakan bronjong sebagai penahan struktur tanah. BBWSSO menargetkan seluruh pekerjaan fisik dapat diselesaikan dalam waktu satu bulan.
“Setelah jaringan pipa permanen selesai dibangun, sistem tersebut akan langsung dioperasikan untuk mengembalikan fungsi irigasi secara normal,” ujarnya.
*Ikuti media sosial kami.
