BULAN Ramadan dimanfaatkan sebagai momentum pembinaan spiritual bagi warga binaan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Banjarnegara untuk menjemput hidayah. Wakil Bupati Banjarnegara, KH Wakhid Jumali, hadir langsung memberikan tausiyah sekaligus mengajak para warga binaan untuk memperbaiki diri dan menjemput hidayah dari Allah SWT.
Kehadiran wakil bupati yang akrab disapa Gus Wakhid itu berlangsung dalam kegiatan Kajian Ramadan yang digelar di lingkungan rutan. Dalam ceramahnya, ia mengingatkan pentingnya menjaga hati agar tetap hidup dengan rasa takut kepada Allah.
Menurutnya, salah satu musibah terbesar dalam kehidupan manusia adalah ketika hati sudah tidak lagi merasa bersalah saat melakukan dosa.
“Ketika seseorang melakukan kesalahan tetapi tidak merasa menyesal, itu tanda hati mulai mati. Hilangnya rasa takut kepada Allah merupakan musibah besar bagi manusia,” katanya.
Manusia Tidak Lepas dari Salah, Taubat Selalu Terbuka
Dalam tausiyahnya, Gus Wakhid menegaskan bahwa manusia pada hakikatnya tidak pernah luput dari kesalahan. Namun, Allah SWT selalu membuka pintu ampunan bagi siapa saja yang ingin kembali ke jalan yang benar.
Ia menekankan bahwa manusia terbaik bukanlah mereka yang tidak pernah berbuat salah, melainkan mereka yang menyadari kesalahan, menyesali perbuatannya, lalu berusaha memperbaiki diri dengan bertaubat.
Sebagai teladan, ia mencontohkan akhlak Nabi Muhammad SAW yang tetap memperbanyak istighfar meskipun telah dijamin masuk surga.
“Jika Nabi yang sudah dijamin surga saja terus memohon ampun kepada Allah, maka kita yang penuh dengan dosa seharusnya jauh lebih banyak lagi beristighfar,” katanya.
Masa Pembinaan Diminta Dimanfaatkan untuk Mendekatkan Diri kepada Allah
Gus Wakhid yang juga dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al Fatah Banjarnegara mengajak para warga binaan untuk memanfaatkan masa pembinaan di rutan sebagai kesempatan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Menurutnya, hidayah tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus dijemput melalui usaha, ilmu, dan ketaatan dalam menjalankan ajaran agama.
Ia juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara, sementara kehidupan akhirat bersifat kekal.
“Gunakan waktu di sini untuk memperbaiki diri. Jangan sampai ketika keluar dari rutan, hati kita masih sama seperti sebelumnya,” katanya.
Rutan Banjarnegara Kembangkan Program Pesantren At Taubah
Sementara itu, Kepala Rutan Kelas IIB Banjarnegara, Dodik Harmono, menjelaskan bahwa kajian bersama Wakil Bupati tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan keagamaan yang rutin digelar setiap pekan selama Ramadan.
Menurutnya, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pembinaan mental dan spiritual bagi warga binaan agar memiliki bekal ketika kembali ke masyarakat.
“Kami berharap setelah kembali ke tengah masyarakat nanti, mereka benar-benar menjadi pribadi yang lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan yang sama,” ujarnya.
Dodik menambahkan, Rutan Banjarnegara juga menjalin kerja sama dengan Pondok Pesantren Al Fatah dalam program pembinaan keagamaan.
Dari kolaborasi tersebut lahirlah Pondok Pesantren At Taubah, yang menjadi cabang binaan Ponpes Al Fatah dan berada di dalam lingkungan rutan.
Melalui program tersebut, para warga binaan tidak hanya menjalani masa hukuman, tetapi juga mendapatkan pembinaan keagamaan secara rutin.
“Sekarang mereka bahkan lebih akrab disapa sebagai Santri At Taubah,” kata Dodik.
Program pesantren tersebut dilaksanakan setiap hari dengan berbagai kegiatan keagamaan sebagai upaya membangun karakter, meningkatkan keimanan, serta menumbuhkan semangat memperbaiki diri selama menjalani masa pembinaan.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.
