KABARBANYUMASRAYA.COM – Pemprov Jawa Tengah mendorong budaya peduli lingkungan ditanamkan sejak dini. Dari 79 sekolah dan madrasah yang mengikuti seleksi, 52 dinyatakan layak menjadi Sekolah Adiwiyata Provinsi 2026.
Gerakan peduli lingkungan di Jawa Tengah terus diperluas melalui pendidikan. Sebanyak 52 sekolah dan madrasah ditetapkan sebagai Sekolah Adiwiyata Provinsi Jawa Tengah 2026 setelah melewati proses seleksi dari 79 peserta.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno mengatakan, sekolah Adiwiyata memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan peduli lingkungan sejak usia dini.
Menurutnya, Adiwiyata tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai program untuk mengejar penghargaan. Lebih dari itu, sekolah menjadi tempat membentuk perilaku siswa agar terbiasa menjaga lingkungan.
“Sekolah Adiwiyata itu adalah sekolah yang lebih peduli lingkungan. Ini menjadi titik yang strategis karena mendidik anak-anak kita untuk lebih menginternalisasi pemahaman tentang kepedulian terhadap masalah lingkungan,” kata Sumarno saat acara Pembinaan dan Gerakan Peduli Lingkungan untuk Lembaga dan Masyarakat di Jawa Tengah, di Aula Kalpataru, Kantor DLH Jateng, Kamis (17/9/2026).
79 Sekolah Ikuti Seleksi Adiwiyata Jateng
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Tengah Heru Djatmiko mengatakan, seleksi Sekolah Adiwiyata Provinsi 2026 diikuti 79 sekolah dan madrasah.
Peserta terdiri atas 38 SMA, 16 SMK, tiga SLB, dan 19 madrasah aliyah (MA). Usulan SMA, SMK, dan SLB berasal dari 24 kabupaten/kota, sementara peserta MA berasal dari 14 kabupaten/kota.
Setelah melalui tahapan seleksi, 52 sekolah dan madrasah dinyatakan memenuhi kriteria untuk ditetapkan sebagai Sekolah Adiwiyata Provinsi Jawa Tengah 2026 melalui keputusan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin.
Rinciannya terdiri atas 25 SMA dari 16 kabupaten/kota, 10 SMK dari 17 kabupaten/kota, tiga SLB dari tiga kabupaten/kota, serta 14 MA dari sembilan kabupaten/kota.
Jumlah Sekolah Adiwiyata Jateng Capai 242
Heru menyebut jumlah Sekolah Adiwiyata di Jawa Tengah terus bertambah. Hingga 31 Agustus 2026, tercatat 242 sekolah jenjang SMA, SMK, MA, dan SLB telah masuk dalam program tersebut.
Sumarno berharap penghargaan yang diberikan kepada sekolah tidak berhenti sebagai pencapaian administratif. Sekolah yang telah mendapat predikat Adiwiyata diharapkan terus mengembangkan gerakan peduli lingkungan sekaligus menjadi inspirasi bagi sekolah lainnya.
“Apresiasi ini bukan akhir, tetapi menjadi motor motivasi agar sekolah-sekolah lebih bersemangat dan menginspirasi sekolah-sekolah lain untuk menjadi sekolah Adiwiyata,” ujarnya.
Adiwiyata Tekan Sampah dan Konsumsi Energi
Program Adiwiyata juga mulai menunjukkan dampak pada pengelolaan sumber daya di lingkungan sekolah.
Berdasarkan capaian pembelajaran hidup hingga 31 Desember 2025, penerapan program tersebut berkontribusi terhadap penurunan timbulan sampah, konsumsi air bersih, dan penggunaan energi.
Sampah organik tercatat berkurang hingga 8.787 ton per bulan, sampah plastik 378,8 ton per bulan, dan sampah kertas 306,6 ton per bulan.
Sementara konsumsi air bersih tercatat 398 meter kubik per bulan, sedangkan penggunaan energi listrik mencapai 5.041 kWh per bulan.
“Dengan adanya sekolah Adiwiyata ada beberapa hal yang menurun dan itu memang memberikan dampak yang signifikan,” kata Heru.
Sumarno menegaskan, pembentukan budaya peduli lingkungan perlu dimulai sejak anak-anak masih berada di bangku pendidikan. Dengan demikian, kebiasaan menjaga lingkungan diharapkan dapat terbawa hingga kehidupan mereka di tengah masyarakat.
*Ikuti media sosial kami.
