TEGAL Business Forum 2026 harus menghasilkan investasi nyata, hal ini menjadi titik berat untuk menumbuhkan iklim investasi di Jawa Tengah. Tak hanya itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi juga mendorong kepala daerah menjadi “marketing manager” untuk menarik investor, membuka lapangan kerja, dan memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah.
Untuk itu, Tegal Business Forum 2026 yang digelar di Shangri-la Land Convention Hall, Kota Tegal ini harus menjadi momentum lahirnya investasi baru yang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, bukan sekadar agenda seremonial tahunan.
Menurutnya, setiap forum investasi harus menghasilkan kerja sama konkret, penandatanganan nota kesepahaman (MoU), hingga realisasi investasi yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
“Business forum harus berorientasi pada hasil, jangan hanya orientasi kegiatan. Harus ada yang dijual kepada pelaku usaha, kemudian ada MoU atau kerja sama, sehingga hasilnya jelas dan dapat diukur,” katanya.
APBD Terbatas, Investasi Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi
Luthfi menjelaskan, kondisi ekonomi global yang penuh tantangan dan keterbatasan kapasitas fiskal membuat pemerintah daerah tidak lagi bisa mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebagai penggerak utama pembangunan.
Dengan APBD Provinsi Jawa Tengah sekitar Rp23 triliun yang harus dibagi untuk melayani 35 kabupaten/kota, pemerintah dituntut mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru melalui investasi dan kolaborasi dengan sektor swasta.
“Di tengah geopolitik dunia dan keterbatasan fiskal, pejabat publik harus kreatif mencari sumber pertumbuhan baru. Caranya dengan menumbuhkan ekonomi baru di wilayah melalui investasi dan kolaborasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, investasi bukan hanya menghadirkan modal, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, meningkatkan daya saing daerah, serta memperkuat ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Kepala Daerah Diminta Jadi “Marketing Manager”
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Luthfi juga meminta seluruh bupati dan wali kota di Jawa Tengah mengubah pola pikir dalam membangun daerah. Menurutnya, kepala daerah harus mampu menjadi “marketing manager” yang aktif mempromosikan potensi wilayah kepada calon investor.
Selain menawarkan peluang investasi, pemerintah daerah juga harus memberikan kepastian hukum, mempercepat proses perizinan, serta menyelesaikan berbagai hambatan yang dihadapi pelaku usaha.
Khusus untuk Kota Tegal, Luthfi menilai daerah ini memiliki potensi besar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan Pantura Barat. Sektor maritim, perdagangan, jasa, kuliner, hingga kewirausahaan dinilai mampu menjadi magnet investasi apabila dikemas secara profesional.
Strategi tersebut sejalan dengan visi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di setiap wilayah eks-karesidenan agar saling terhubung dan memperkuat ekonomi regional.
Investasi Jawa Tengah Terus Tumbuh
Optimisme pemerintah didukung oleh tren investasi yang terus meningkat di Jawa Tengah.
Sepanjang tahun 2025, realisasi investasi mencapai Rp110,64 triliun dengan penyerapan lebih dari 418 ribu tenaga kerja. Sementara pada Triwulan I 2026, nilai investasi kembali mencapai Rp23,02 triliun dengan penyerapan sekitar 92 ribu tenaga kerja.
Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah juga tercatat sebesar 5,89 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di angka 5,61 persen.
Di tingkat daerah, Kota Tegal menunjukkan performa yang menggembirakan. Sepanjang 2025, realisasi investasinya mencapai Rp791,67 miliar, atau 132 persen dari target yang ditetapkan. Pada Triwulan I 2026, Kota Tegal kembali masuk dalam 10 besar daerah dengan realisasi investasi tertinggi di Jawa Tengah.
Investasi Harus Menggerakkan UMKM
Meski capaian investasi terus meningkat, Ahmad Luthfi mengingatkan agar manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan besar.
Menurutnya, investasi harus mampu menggerakkan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang jumlahnya mencapai sekitar 4,9 juta pelaku usaha di Jawa Tengah.
Karena itu, ia meminta Bank Jateng memperkuat perannya sebagai lembaga keuangan yang aktif membiayai sektor produktif dan dunia usaha.
Bank Jateng Perluas Layanan untuk Dunia Usaha
Direktur Utama Bank Jateng, Bambang Widyatmoko, mengatakan penyelenggaraan Tegal Business Forum merupakan tindak lanjut arahan Gubernur agar Bank Jateng semakin dekat dengan pelaku usaha.
“Kami ingin memperluas layanan kepada dunia usaha dan perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Jawa Tengah. Dana yang dihimpun juga kami salurkan kepada sektor produktif, mulai dari usaha mikro, kecil, menengah, hingga komersial,” kata Bambang.
Menurutnya, penguatan pembiayaan produktif diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan daya saing pelaku usaha lokal.
Tegal Business Forum Bidik Investasi di Sektor Perdagangan, Kuliner, hingga Perhotelan
Sementara itu, Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono mengungkapkan bahwa Tegal Business Forum 2026 diikuti sekitar 100 pengusaha besar, 100 pelaku usaha kuliner, restoran, kafe, dan lounge, serta perwakilan sekitar 20 perusahaan penanaman modal asing (PMA).
Mengusung tema “Amazing Tegal, Amazing Investment, and Amazing Service”, forum tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi pengembangan aset dan lahan strategis di Kota Tegal menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Pemerintah Kota Tegal menargetkan semakin banyak investasi yang masuk ke sektor perdagangan, jasa, perhotelan, kuliner, hingga pembangunan berbagai fasilitas publik.
Bagi Ahmad Luthfi, keberhasilan sebuah forum investasi tidak lagi diukur dari kemegahan acara, melainkan dari besarnya investasi yang berhasil direalisasikan, jumlah lapangan kerja yang tercipta, serta dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
*Ikuti media sosial kami.
