MELANTIK Pengurus PTMSI Jawa Tengah periode 2026–2030, Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan pembinaan atlet harus menjadi prioritas untuk mengembalikan kejayaan tenis meja Jawa Tengah di tingkat nasional hingga internasional.
Selain itu, Gubernur Ahmad Luthfi juga meminta pengurus PTMSI yang baru ini tidak sekadar membangun organisasi yang solid, tetapi harus mampu menghidupkan kembali tradisi prestasi tenis meja Jawa Tengah melalui pembinaan atlet yang berkelanjutan dan kompetisi yang berkualitas.
Menurutnya, keberhasilan sebuah organisasi olahraga tidak hanya diukur dari administrasi yang baik, tetapi dari lahirnya atlet-atlet berprestasi yang mampu mengharumkan nama daerah di level nasional maupun internasional.
Ahmad Luthfi Minta Seluruh Pengurus Bersatu Bangun Prestasi
Ahmad Luthfi menegaskan seluruh pengurus PTMSI di 35 kabupaten dan kota harus bersinergi untuk memperkuat sistem pembinaan atlet sejak usia dini hingga level prestasi. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, kata dia, juga akan memberikan apresiasi kepada atlet yang mampu mengukir prestasi.
“Pembinaan dan prestasi harus kita kedepankan. Mulai hari ini pengurus di 35 kabupaten/kota harus bersatu untuk memberikan prestasi olahraga tenis meja kepada masyarakat. Pemprov Jateng akan memberikan tali asih bagi mereka yang berprestasi,” katanya.
Jawa Tengah memiliki sejarah panjang sebagai salah satu kekuatan tenis meja nasional. Karena itu, momentum kepengurusan baru harus dimanfaatkan untuk mengembalikan kejayaan tersebut melalui program pembinaan yang lebih terarah dan berkesinambungan.
Punya Sejarah Gemilang, Jateng Optimistis Bangkit Lagi
Ahmad Luthfi mengingatkan bahwa Jawa Tengah pernah mencatatkan prestasi membanggakan pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) cabang Tenis Meja.
Pada PON XVI Tahun 2004, Jawa Tengah meraih medali emas nomor tunggal putra melalui Yon Mardiyono serta medali perunggu beregu putra. Empat tahun kemudian di PON XVII Tahun 2008, kontingen Jawa Tengah kembali menyumbangkan medali perak beregu putra, perunggu beregu putri, dan perunggu ganda putra melalui pasangan Yon Mardiyono dan Ersan Sutanto.
Prestasi tersebut membawa Yon Mardiyono memperkuat tim nasional Indonesia pada SEA Games 2005 dan 2007. Ia turut menyumbangkan medali perak ganda putra pada SEA Games 2005 serta medali perunggu beregu putra pada SEA Games 2007.
Menurut Luthfi, potensi kebangkitan tenis meja Jawa Tengah masih sangat terbuka. Hal itu terlihat dari munculnya atlet-atlet muda berbakat, termasuk Citra Rasmi, yang sukses meraih tiga medali emas pada Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) XVII Tahun 2025 dari nomor tunggal putri, ganda putri, dan beregu putri.
Selain itu, antusiasme masyarakat terhadap olahraga tenis meja juga tercermin dari penyelenggaraan Kejuaraan Tenis Meja Gubernur Jateng Cup 2025 yang diikuti 362 atlet dari berbagai klub di Jawa Tengah.
Tenis Meja Harus Menjadi Gaya Hidup Masyarakat
Ahmad Luthfi berharap kepengurusan baru mampu menghadirkan berbagai inovasi agar tenis meja semakin diminati masyarakat. Salah satunya melalui penyelenggaraan kompetisi secara rutin yang melibatkan pemerintah daerah dan komunitas olahraga.
“Pengurus yang baru harus punya terobosan kreatif. Olahraga sekarang menjadi gaya hidup dan kebutuhan masyarakat. Wujudkan tenis meja jadi lifestyle dengan banyak kegiatan. Kalau perlu ada event rutin, libatkan juga bupati dan wali kota,” ujarnya.
Ia meyakini semakin banyak kompetisi digelar, semakin besar pula peluang munculnya atlet-atlet potensial yang siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
PTMSI Jateng Bidik Medali PON 2028
Ketua Umum Pengurus Provinsi PTMSI Jawa Tengah, Lukas Arry Dwiko Utomo, mengatakan tantangan pembinaan tenis meja saat ini semakin kompleks sehingga membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pengurus daerah, klub, pelatih, atlet, hingga pemerintah.
Menurutnya, kepengurusan periode 2026–2030 akan fokus membangun tata kelola organisasi yang lebih profesional, transparan, dan akuntabel sebagai fondasi peningkatan prestasi atlet.
“Kami optimistis dapat mengembalikan prestasi tenis meja Jawa Tengah. Target kami pada PON 2028 di NTB, cabang tenis meja mampu menyumbangkan medali bagi Jawa Tengah,” kata Lukas.
Ia menambahkan, pembinaan atlet usia dini, peningkatan kualitas pelatih, serta penyelenggaraan kompetisi secara berjenjang akan menjadi program prioritas dalam empat tahun ke depan.
Dengan dukungan penuh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, pengurus PTMSI optimistis tenis meja kembali menjadi salah satu cabang olahraga unggulan yang mampu mengharumkan nama Jawa Tengah di tingkat nasional hingga internasional.
*Ikuti media sosial kami.
