BAGI Warga Desa Kutayasa, Kecamatan Bawang, Banjarnegara, Nama Lismadi yang mendapatkan julukan Kades Nyentrik bukan hanya sekadar kepala desa, dengan gaya kepemimpinan yang Nyentrik dan ramah senyum, Lismadi mampu menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di desa dan dicintai masyarakatnya.
Dengan segala problematika yang terjadi saat ini, Pemerintahan desa selalu dihadapkan pada persoalan yang tidak sederhana, mulai dari administrasi, pelayanan publik, hingga dinamika sosial masyarakat. Namun Lismadi, Kepala Desa Kutayasa, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara, memilih cara yang tak biasa dalam memimpin: senyum sebagai energi utama kepemimpinan.
Sebagai sosok yang dikenal Kades Nyentrik, Lismadi menghadirkan wajah kepemimpinan yang sederhana, humanis, dan membumi. Purnawirawan TNI Angkatan Darat ini percaya bahwa ketenangan dan optimisme pemimpin akan menular kepada masyarakat.
“Bagi saya, kades itu orang tua, dan rakyat adalah anak-anaknya. Kalau orang tua terlihat gembira dan bahagia, anak-anak akan ikut semangat dan merasa aman,” ujar Lismadi, Jumat (30/1/2026).
Filosofi Purnawirawan TNI, Beban Pemimpin Jangan Sampai Membebani Rakyat
Pengalaman panjang di dunia militer membentuk cara pandang Lismadi tentang kepemimpinan. Ia memahami betul bahwa kepala desa memikul banyak tanggung jawab—dari pembangunan, pengelolaan anggaran, hingga menampung beragam aspirasi warga.
Namun, menurutnya, beban itu tidak perlu dipertontonkan kepada masyarakat.
“Pusing dan ngelu biarlah ada di kepala kades dan perangkat desa. Jangan sampai rakyat ikut terbebani. Tugas kami adalah mengabdi untuk rakyat tanpa batas,” tuturnya.
Prinsip tersebut membuat Lismadi selalu tampil ceria, bahkan di tengah padatnya agenda pemerintahan dan persoalan desa yang kompleks.
Kades Nyentrik yang Mudah Ditemui, Pemimpin yang Hadir dan Mau Mendengar
Dalam keseharian, Lismadi dikenal sebagai kepala desa yang mudah ditemui, ramah, dan terbuka berdialog. Kades Nyentrik ini juga tidak menjaga jarak dengan warga, kerap menyapa dengan senyum lebar, dan memberi ruang diskusi tanpa sekat.
Baginya, membangun desa tidak hanya soal jalan, gedung, atau program, tetapi juga menciptakan rasa aman, nyaman, dan kebersamaan.
“Kalau rakyat bahagia, desa akan hidup. Kalau desa hidup, Insya Allah pembangunan akan berjalan dengan baik,” katanya.
Tak Sekadar Memimpin, Aktif Membina Karakter Anak Muda
Julukan Kades Nyentrik bukan tanpa alasan. Selain mengurus roda pemerintahan, Lismadi juga aktif melakukan pembinaan karakter bagi anak-anak dan pemuda di Desa Kutayasa.
Ia kerap mengisi kegiatan baris-berbaris, bela negara, hingga penanaman nilai nasionalisme di sekolah-sekolah. Menurutnya, membangun sumber daya manusia sejak dini adalah investasi jangka panjang desa. Kedekatannya dengan generasi muda membuat sosoknya tidak hanya dihormati, tetapi juga disukai.
Gaya kepemimpinan yang santai namun tegas itu mendapat apresiasi luas dari warga. Banyak yang merasakan suasana Desa Kutayasa menjadi lebih hangat dan komunikatif.
“Pak Kades orangnya selalu ceria. Kalau bertemu beliau, rasanya ikut semangat. Kami jadi lebih berani bicara soal kebutuhan desa, sangking asyik dan uniknya beliau dalam bermasyarakat, banyak yang menyebut sebagai Kades Nyentrik,” ujar Yono, salah satu warga Kutayasa.
Kepemimpinan adalah Amanah, Senyum adalah Jalan Pengabdian
Melalui filosofi sederhana tersebut, Lismadi ingin menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan amanah untuk melayani dan menguatkan masyarakat.
Senyum, baginya, adalah langkah kecil yang mampu menghadirkan dampak besar—menenangkan, menghidupkan optimisme, dan mempererat harmoni sosial.
Tak heran jika kepemimpinan Kades Nyentrik dari Kutayasa ini membuat warganya ikut riang, merasa dekat, dan tumbuh bersama dalam semangat kebersamaan.
*Ikuti media sosial kami.
